Showing posts with label Humor. Show all posts
Showing posts with label Humor. Show all posts

Wednesday, August 24, 2016

SEGUWWIINIIIHH

ukuran depa itu sama dengan arms wide open
Syaichona Zainur memang khoriqul 'adah. Di seantero pulau, beliaulah satu-satunya kyai yang tak mau bermatsna-ria, apalagi berta'addud. Beliau malah kerap kali mengkritik praktek poligami yang sembarangan.

"Sunnah Rasul kok dijadikan tameng? Tahu tidak? Selain Siti 'Aisyah, Rasulullah tidak menikahi wanita selain janda!" 

Demikianlah, dan Syaichona menghabiskan seluruh waktu luangnya untuk mengasuh ikan-ikan piranha.

Sampai suatu hari, pagi-pagi sekali sesudah subuh, Bindereh Hodri menjemputnya.

"Mari ikut saya, Kak Toan!"

Ternyata Bindereh mengajaknya bertakziyah ke rumah tetangga yang baru wafat malam harinya. Si tetangga itu masih muda, terhitung pengantin baru dan belum punya anak. Kepada Syaichona, Bindereh menunjukkan foto-foto pasangan muda yang dipajang di rumah duka. Dan dari foto-foto itu, Syaichona dapat melihat dengan gamblang bahwa di dunia fana ini ada yang jauh lebih menarik ketimbang ikan piranha!

"Sama-sama menempuh resiko, kenapa 'dak cari alternatif yang lebih prospektip ketimbang ikan-ikan yang tampangnya jelek banget itu?"

Maka Syaichona pun bangkit minatnya. Dengan sepenuh hati ia bantu keluarga shohibul mushibah mengurus sagala sesuatu terkait jenazah, bahkan ikut memandikannya. Keluarga merasa berterimakasih sekali dan sejak saat itu jadi amat dekat dengan Syaichona. Tak ada satu masalah pun kecuali dimintakan saran dan nasehat dari beliau. Tampaknya keluarga sangat siap menerima Syaichona dengan tangan terbuka.

Tapi, masa 'iddah berlalu, tak terjadi apa-apa. Bahkan sampai berbulan-bulan sesudah itu, Syaichona tak juga mengambil langkah. Bindereh Hodri pun terheran-heran,

"Tunggu apa lagi, Kak Toan?"

Yang ditanya menggeleng.

"Hah? Percuma dong Kak Toan sudah repot-repot membantu ini-itu? Sampai ikut memandikan jenazahnya lagi!"

"Justru itu...", Syaichona mendesah, "Aku angkat tangan. Ketika memandikan dulu itu aku jadi tahu kalau aku ini tak punya maqom menjadi suami pengganti".

"Apakah waktu itu Kak Toan menyaksikan keramatnya jenazah?"

"Bukan soal itu..."

"Habis? Soal apa?" 

Syaichona menampilkan mimik putus asa,

"Ukurannya seguwwiniiihhh..."

Ia memberi isyarat dengan membentangkan kedua tangannya.

[Status Facebokk Yahya Cholil Staquf]

Tuesday, June 21, 2016

RAMADAN ISTIMEWA BAGOR

Ramadan kali ini istimewa bagi Bagor. Ingat Bagor, kan? Ya, kawan saya yang punya karier bagus di sebuah perusahaan BUMN itu...

Sudah hampir 20 tahun dia tidak menjalankan ibadah puasa. Terakhir, dia puasa saat dikejar-kejar tentara karena dianggap ikut peristiwa Kudatuli 1996, lalu keluarga besarnya yang kebetulan adalah orang-orang Muhammadiyah tulen itu mengungsikan Bagor ke sebuah pesantren di Pacitan. Saat di pesantren itulah, dia berpuasa. Setelah kemudian balik lagi karena harus memenuhi undangan Kodim, lalu kena wajib lapor seminggu sekali, Bagor kembali menekuni kuliah di UGM. Semenjak itu pula dia tak pernah berpuasa.

Bagi orang-orang di sekitarnya, juga keluarga besarnya, Bagor dianggap orang sukses. Masih berumur 40 tahun. Lulusan universitas ternama di luar negeri. Kariernya melejit. Hartanya berlimpah. Tapi bagi kedua orangtuanya, Bagor masih punya kelemahan: dia jarang sekali shalat, dan tak pernah lagi menjalankan puasa Ramadan.

Ramadan kali ini beda. Kemarin, Bagor mengundang kedua orangtuanya datang naik pesawat terbang dari Yogya ke Jakarta dengan penerbangan kelas bisnis. Semalam, dia memimpin salat tarawih. Dan barusan, dia memimpin makan malam berbuka puasa.

Kedua orangtuanya sampai menitikkan airmata. Bagor yang dulu sudah kembali. Bagor yang ketika duduk di bangku SMA sangat akrab dengan masjid dan menjadi ketua remaja masjid.

Hanya Irma, istrinya yang agak kikuk. Perubahan Bagor dari tak pernah berpuasa menjadi berpuasa, agak ganjil. Tapi Irma memaklumi. Hanya butuh penyesuaian saja.

Ini adalah makan malam terenak yang pernah dirasakan oleh kedua orangtua Bagor. Kembali makan bersama Si Anak Saleh di saat berbuka puasa.

"Ayo, Buk, nambah..." ujar Bagor sambil telap-telep makan karena kelaparan. Maklum hampir 20 tahun tak pernah berpuasa.

"Iya, Nak. Ini daging asapnya enak sekali..." sahut ibunya sambil tersenyum bahagia.

"Itu babi panggang paling enak se-mBintaro, Buk... Ayo Pak, Buk, tambah lagi!"

Mendadak suasana jadi tintrim. Muka kedua orangtua Bagor tegang. Makanan mereka seperti nyangkut di tenggorokan. Sementara Bagor tidak menyadari apa yang terjadi. Dia terus mengunyah dan mengunyah...

Irma langsung lari ke lantai dua. Masuk ke dalam kamar. Tak kuat menahan tawa.