Showing posts with label Puthut EA. Show all posts
Showing posts with label Puthut EA. Show all posts

Monday, October 17, 2016

COPET

Saya kadang geli kalau mendengar slogan dalam Pilgub atau sejenisnya: "Mari kita bertarung program." Atau: "Ini ajang kontestasi gagasan."

Anda bisa cek di lembaga-lembaga survei, di nomor berapakah para pemilih meletakkan sesuatu yang namanya 'program' atau 'gagasan'. Kalau mereka mau jujur, maka kita bakal bilang: tembelek. Tidak ada. Itu hanya omongan kaum intelektual yang ingin mencoba menyelamatkan demokrasi kita, atau karena begitulah buku teks tentang demokrasi langsung.

Pertama dan utama, pemilih memilih seseorang karena uang dan atau sejenisnya. Apa itu sejenisnya? Misalnya: sumbangan tempat ibadah dan fasilitas umum lain. Selain itu dorongan kelembagaan dan komunitas. Makanya SKPD penting dalam pemilihan macam ini. Lembaga-lembaga yang mengakar kuat juga sangat penting. Di keluarga (komunitas terkecil) memang ada perbedaan preferensi pilihan, tapi yang jarang diungkap adalah justru dari keluargalah salah satu sumber preferensi itu muncul. Selain itu baru kemudian 'prejengan' (citra visual dan kehadiran ke publik secara langsung).

Maka itu, kemenangan balon mensyaratkan satu hal: tim kemenangan yang kuat.

Banyak orang salah sangka karena mereka berpikir cara mudah menang adalah dengan uang. Politik uang itu memang ada. Nyata. Tapi bukan berarti gampang dilakukan. Itu yang menjelaskan kenapa bupati dengan modal 20 miliar menang melawan bupati dengan modal 50 miliar. Mereka pikir bagi-bagi uang itu mudah. Padahal susahnya setengah mati. Ada yang uangnya berhenti di timsesnya, ada yang dimakan sendiri oleh tokoh masyarakat yang dipercaya membagikan, ada yang diuntal sendiri oleh koordinator kampung, ada yang salah sasaran, dll.

Orang yang bilang bahwa pilgub atau pilbup adalah soal adu program dan kontestasi gagasan, itu menggelikan. Tapi kalau ada orang yang bilang politik uang adalah cara mudah untuk menang, juga ngaco. Dia pikir bagi-bagi uang itu gampang.

Maka itu, mau caranya halal, mau haram, satu yang pasti: tim pemenangan harus kuat, dan sistemnya harus baik. Tanpa itu, uang yang dibagikan langsung maupun untuk menjalankan kegiatan, bakal ditilep dan dicopet.

Di Indonesia, memang jumlah copet berkurang. Tapi copet di bus Pilkada makin banyak. Maka tidak heran, sesama copet kadang bercanda, "Kamu itu goblok, balon gak bawa dompet kok mau kamu copet..."

Atau ada juga yang bilang, "Kamu salah milih bus. Memang benar dompet calonmu tebal, tapi busnya sudah penuh copet."

Nah, yang lucu, orang-orang yang tulus membantu karena kesamaan visi, walaupun jumlahnya gak banyak, ikut kecopetan pula. Begitu mereka kecopetan, pilihannya ada dua: ikut nyopet, atau turun dari bus sambil teriak, "Kopet!"

[Status Facebook Puthut EA]

Sunday, September 18, 2016

MOURINHO YANG MENYEDIHKAN!

Bagi kebanyakan penggemar sepakbola, Mourinho bisa jadi adalah bintang. Termasuk saya. Dia muncul dari pinggir panggung yang redup dengan karakternya yang kuat, kecerdikannya yang tajam, dan pesonanya yang terang.

Soal prestasi, sudahlah. Mou, bahkan ketika mendaku dirinya sendiri sebagai The Special One pun langsung diamini oleh pers dan pecandu olahraga sepak dan sundul ini. Tapi akhir-akhir ini, Mou kehilangan pesonanya. Karakternya luntur. Dia hampir saja kehilangan semua hal yang membuat fans sepakbola di penjuru dunia dahulu begitu memujanya.

Sebetulnya apa sih yang spesial dari Mou? Kepiawaiannya dalam meracik taktik? Ada terlalu banyak pelatih sepakbola yang juga hebat. Dan hampir semua pelatih jika direkrut kesebelasan besar untuk menukangi, kemampuan itu wajib adanya. Jadi bukan itu semata. Kemampuannya dalam menyusun pemain? Dalam dunia sepakbola yang makin industrialis, puluhan klub dengan ratusan pemain, sesungguhnya semua ada di level yang tak jauh amat bedanya. Terutama jika para pemain itu ada pada kesebelasan-kesebelasan kaya. Semua hampir setara. Kehebatannya dalam membuat drama saling lempar ejekan? Ah, semua pelatih besar sangat terlatih untuk hal begituan. Sama kayak politikus kita. Itu hal yang secara 'kultural' akan tumbuh bersama mereka.

Jadi apa yang sebetulnya spesial dari seorang Mou? Bagi saya, dia memiliki apa yang saya sebut sebagai 'kijang bidikan'. Kalau Anda menggeluti ilmu kepemimpinan, ada satu manuver pemimpin yang jarang diambil karena risikonya terlalu berat: menjadi kijang bidikan.

Ketika organisasi Anda dalam masalah yang berat, ketika kekalahan atau kekeliruan sedang menimpa anak buah Anda, sementara musuh dan publik menyorot itu dengan lampu yang teramat benderang, maka Anda harus keluar dari sebuah gerumbul, bagaikan seekor kijang. Para pemburu yang sudah mengepung pasukan Anda dengan semua senjata yang ada, segera mengalihkan fokus. Mengejar Anda. Memburu Anda. Ingin membunuh Anda. Ingin menumpas Anda. Dan Anda harus terima risiko itu. Untuk kemudian membiarkan pasukan Anda kembali menemukan waktu jeda, menemukan diri mereka kembali, memperbaiki kesalahan, menempa diri lagi, bertarung lagi. Menjadi kuat. Dan makin kuat.

Begitu mereka sudah kuat lagi, saatnya Anda masuk ke gerumbul lagi. Biarkan anak buah Anda menerima sorotan atas prestasi mereka.

Dulu, Mou melakukan itu. Ketika pers dan publik hendak membunyaki para pemain dan kesebelasannya, dia muncul di panggung dengan sorot lampu yang terang. Mencibir. Membuat kegaduhan. Menjadikan dirinya sebagai kijang bidikan. Di saat yang sama, para pemainnya merasa aman, segera memperbaiki diri, lalu berprestasi. Mou, lebih dari sekadar pelatih. Lebih dari seorang yang terlatih membuat drama. Dia siap mengorbankan dirinya sampai habis.

Tapi semenjak musim lalu, Mou tampil menyedihkan. Dia buang aib kesebelasannya ke pubik, dia melakukan konfrontasi terbuka dan melebar ke para pemainnya, orang-orang yang seharusnya dipimpinnya. Hingga semua berakhir dengan antiklimaks: Mou terusir. Dia bukan lagi keluar sebagai 'kijang bidikan' yang molek dan memancing para pemburu. Dia tak lebih dari harimau budukan yang berjalan gontai dan sekarat, dan hanya dikejar oleh ribuan lalat.

Semua orang berharap, ketika Mou kemudian berlabuh ke Manchester United (MU), bahkan para 'haters' MU pun berharap Mou kembali menemukan jatidirinya. Sebab urusan sepakbola bukan melulu soal menyepak kulit bundar dan menyarangkannya ke dalam gawang.

Tapi apa yang terjadi setelah MU mengalami tiga kekalahan beruntun? Mou menyalahkan nasib, menyalahkan wasit, dan menyalahkan pemainnya. Menyedihkan sekali.

Kalau seperti ini terus terjadi, Mou bukan hanya akan terusir dari MU. Tapi juga dari panggung sepakbola. Panggung yang sekalipun menjadi makin industrialis dan kapitalis, tapi suportivitas dan sekian nilai yang dirindukan manusia, akan terus berusaha dipelihara dan dijaga martabatnya.

Kamu ada apa, Mou? Ayolah!

[Status Facebook Puthut EA]

Tuesday, June 21, 2016

RAMADAN ISTIMEWA BAGOR

Ramadan kali ini istimewa bagi Bagor. Ingat Bagor, kan? Ya, kawan saya yang punya karier bagus di sebuah perusahaan BUMN itu...

Sudah hampir 20 tahun dia tidak menjalankan ibadah puasa. Terakhir, dia puasa saat dikejar-kejar tentara karena dianggap ikut peristiwa Kudatuli 1996, lalu keluarga besarnya yang kebetulan adalah orang-orang Muhammadiyah tulen itu mengungsikan Bagor ke sebuah pesantren di Pacitan. Saat di pesantren itulah, dia berpuasa. Setelah kemudian balik lagi karena harus memenuhi undangan Kodim, lalu kena wajib lapor seminggu sekali, Bagor kembali menekuni kuliah di UGM. Semenjak itu pula dia tak pernah berpuasa.

Bagi orang-orang di sekitarnya, juga keluarga besarnya, Bagor dianggap orang sukses. Masih berumur 40 tahun. Lulusan universitas ternama di luar negeri. Kariernya melejit. Hartanya berlimpah. Tapi bagi kedua orangtuanya, Bagor masih punya kelemahan: dia jarang sekali shalat, dan tak pernah lagi menjalankan puasa Ramadan.

Ramadan kali ini beda. Kemarin, Bagor mengundang kedua orangtuanya datang naik pesawat terbang dari Yogya ke Jakarta dengan penerbangan kelas bisnis. Semalam, dia memimpin salat tarawih. Dan barusan, dia memimpin makan malam berbuka puasa.

Kedua orangtuanya sampai menitikkan airmata. Bagor yang dulu sudah kembali. Bagor yang ketika duduk di bangku SMA sangat akrab dengan masjid dan menjadi ketua remaja masjid.

Hanya Irma, istrinya yang agak kikuk. Perubahan Bagor dari tak pernah berpuasa menjadi berpuasa, agak ganjil. Tapi Irma memaklumi. Hanya butuh penyesuaian saja.

Ini adalah makan malam terenak yang pernah dirasakan oleh kedua orangtua Bagor. Kembali makan bersama Si Anak Saleh di saat berbuka puasa.

"Ayo, Buk, nambah..." ujar Bagor sambil telap-telep makan karena kelaparan. Maklum hampir 20 tahun tak pernah berpuasa.

"Iya, Nak. Ini daging asapnya enak sekali..." sahut ibunya sambil tersenyum bahagia.

"Itu babi panggang paling enak se-mBintaro, Buk... Ayo Pak, Buk, tambah lagi!"

Mendadak suasana jadi tintrim. Muka kedua orangtua Bagor tegang. Makanan mereka seperti nyangkut di tenggorokan. Sementara Bagor tidak menyadari apa yang terjadi. Dia terus mengunyah dan mengunyah...

Irma langsung lari ke lantai dua. Masuk ke dalam kamar. Tak kuat menahan tawa.

Monday, May 23, 2016

HAMDAN SI PENGGOTONG REL KERETA API


Ketika sepeda motor yang dinaikinya melintas di sisi Timur kampung, Hamdan dicegat segerombol laki-laki. Bau alkohol tercium tajam.

"Hamdan, tolong belikan rokok," ujar salah satu di antara mereka, sambil mengulungkan sehelai uang kertas.

"Ooo beres, Mas. Sampeyan tunggu sebentar!" Dengan setengah ngebut, sepeda motornya di-gas, menembus malam.

Ketika melewati sisi Barat kampungnya, laki-laki yang dua bulan lagi berusia 25 tahun itu mendengar namanya dipanggil. Dia menghentikan laju sepeda motornya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.

Dari balik pepohonan Sengon dan Marengki, beberapa orang muncul. Mereka mendekati Hamdan. "Hamdan, tolong bantu kami mengangkat rel kereta api..." terdengar suara dari mulut salah seorang di antara mereka, tapi tak jelas yang mana.

"Saya mau beli rokok, Mas."
"Iya. Kalau kamu sudah bantu kami mengangkat rel, kamu kan bisa membeli rokok. Tak lama."

Hamdan lalu memarkir sepeda motornya di pinggir jalan. Kemudian mengikuti langkah orang-orang menuju bekas jalur kereta api yang sudah lama mati.

Ketika sedang mengangkat rel, tiba-tiba ada belasan orang menyerbu. Lalu ada letusan pistol. "Berhenti! Jangan ada yang bergerak!"

Orang-orang yang sibuk mengangkat rel, segera melempar rel, dan berlari. Termasuk pasangan Hamdan mengangkat batang besi. Hamdan bengong. Kedua tangannya masih dalam posisi mengangkat rel di salah satu ujung, sementara ujung yang lain menyentuh tanah, ditinggal berlari penggotongnya. Hamdan hanya berdiri melihat kesibukan orang-orang yang baru datang, yang berusaha menangkap orang-orang yang meminta bantuannya. Hingga seseorang bertubuh gempal menyamplak rahangnya, meringkus tangannya, dan menggelandangnya naik ke atas bak truk.

Hamdan masih bingung dengan apa yang terjadi, bahkan ketika dia dimasukkan ke jeruji besi. Pikirannya tidak jenak. Menjelang Subuh, gilirannya diperiksa.

"Sudah berapa lama kamu mencuri rel kereta api?"
"Mencuri apa, Pak? Saya hanya akan membeli rokok..."

Plak! Satu tamparan mendarat di pipi kiri Hamdan.

"Siapa yang memimpin rombongan pencuri ini?"
"Tolong dilepas, Pak. Saya nggak enak sama teman-teman, saya disuruh beli rokok..."

Plak! Dalam waktu setengah jam, belasan pukulan dan tamparan tiga polisi yang memeriksanya, menghujani Hamdan. Tapi Hamdan bergeming. Dia terus meminta agar dibebaskan karena harus membeli rokok.

Sambil mengusap darah yang keluar dari celah bibir dan hidungnya, Hamdan memohon, "Pak, ini sudah hampir pagi, saya nggak enak sama teman-teman. Sudah begini saja, Pak... Saya tak keluar sebentar. Mengembalikan uang mereka, setelah itu saya akan balik ke sini, Pak..."

Kembali satu getokan mendarat di kepala Hamdan, sebelum kemudian ketiga polisi meninggalkan laki-laki berkulit legam yang sebentar lagi akan menikah itu dalam keadaan merasa bersalah karena belum menunaikan amanah membelikan rokok teman-temannya.

Ketika beberapa hari kemudian Hamdan dikeluarkan dari sel tahanan, hal pertama yang dilakukan adalah meminjam uang ibunya, kemudian membeli sebungkus rokok, lalu mencari orang yang memintanya membelikan rokok.

"Mas, maaf lama sekali saya membeli ini." katanya sambil mengulungkan sebungkus rokok.

Laki-laki yang memintanya membeli rokok, meneteskan airmata. Lalu memeluk Hamdan erat sekali.

[Status Facebook Puthut EA]