Thursday, May 19, 2016

DEDDY DORES


Lama tak bertemu, saya menjumpai Deddy Dores di ruang makan studio Metro TV, sewaktu kami menunggu waktu tapping untuk acara Mata Najwa dimulai. Kecuali perutnya yang agak tambun, tak ada yang berubah dari dia: ganteng dan suka bercanda. Gayanya pun masih Deddy Dores yang cuek. Kami lalu menghabiskan waktu menunggu itu di ruang belakang studio untuk merokok.

Malam itu, bertahun-tahun setelah seperti menghilang, saya baru tahu, pengetahuan agama Deddy cukup lumayan. Dia bisa menjelaskan kenapa manusia harus shalat, dan untuk siapa shalat. Kenapa di akhir shalat harus mengucapkan salam, dan untuk siapa salam itu. Kenapa Al-Fatihah ada tujuh ayat, dan sebagainya.

“Wah dadi sufi saiki rek.”
“Sufi opo Rus?”
“Susune Fifi.”
“Hahaha... Iyo susune Fifi.”

Meski lama tinggal di Bandung dan fasih berbahasa Sunda, Deddy tetap lancar berbicara dengan bahasa Surabayaan, bahasa yang juga sering digunakan Ian Antono [God Bless]. Dan “Fifi” yang kami maksud malam itu, bukan orang Bandung atau Surabaya. Dia maya.

Selain dunia sufi, dia juga bercerita soal rencana mengeluarkan album baru. Album yang akan menceritakan tentang dunia judi yang pernah menjeratnya, dan tentu soal perempuan. Deddy memang pemusik flamboyan. Perlente.

Anak-anak zaman sekarang, mungkin tak mengenal namanya, tapi Deddy Dores mestinya adalah salah satu ikon musik di Tanah Air. Namanya popular di akhir-akhir tahun 80-an, dan semakin moncer ketika dia melambungkan penyanyi Nike Ardila lewat album “Seberkas Sinar” [1990].

Album slow rock itu terjual 300 ribu keping, dan salah satu lagunya “Seberkas Sinar” menjadi hits. Nama Nike melambung.

Dua tahun berikutnya, album kedua Nike “Bintang Kehidupan” laku hingga 2 juta keping. Begitu juga dengan album “Sandiwara Cinta” [album terakhir Nike sebelum dia tewas kecelakaan -1995], terjual lebih dari 2 juta keping.

Deddy memang pemusik rock. Sebelum lahir God Bless [1973], dia bergabung dengan Ahmad Albar, Donny Fatah, dan Ludwig LeMans, tak lama setelah dia keluar dari Rhapsodia. Dia kemudian mendirikan Super Kid bersama Deddy Stanzah dan Jelly Tobing. Grup itu menghasilkan enam album. Salah satunya adalah album “Cemburu” yang hits karena salah satu lagunya "Cemburu Itu Indah." Lagu itu adalah plagiasi dari lagu "She's In Love With You" Suzi Quatro.

"Aku cemburu/Melihat tingkahmu/Jalan bergandengan berpeluk ciuman/Aku cemburu... /Sungguh-sungguh mati sayang sama kamu/Aku mohon aku minta jangan sampai kau buat lagi begitu... /Aku cemburu..."

Ketika Superkid bubar, Deddy Dores bersolo. Dia kembali menyanyikan lagu-lagu pop termasuk berduet dengan Lilian [1978]. Beberapa musisi menudingnya melacur, tapi setiap orang punya kebutuhan hidup masing-masing.

Deddy mengaku terpaksa banting stir ke jalur pop karena dia harus bertahan hidup. Masa itu, musik rock di Indonesia memang dilanda paceklik menyusul dominannya lagu-lagu pop dan dang dut. Ahmad Albar dan Ian Antono juga mengeluarkan Zakia, lagu setengah dang dut yang pernah popular itu.

“Pak Deddy... Kebayang enggak sih loe Ded, kita bermusik sampai 50 tahun?” Donny Fattah muncul menyapa Deddy, lalu dua orang itu tertawa bersama.

Mulai tahun lalu, Deddy berniat kembali ke dunia musik, setelah namanya absen cukup lama. Dia sedang merampungkan satu album, dan saya berjanji untuk menulisnya bila album itu sudah keluar.

"Jadi gimana soal perempuan, Mas?"
“Kamu itu loh, Rus...”
“Ya cuma nanya, Mas...”
“Kamu tahu Rus, perempuan itu sebetulnya tak peduli apa kamu cakep atau kaya. Mereka butuh ditangkap perasaannya, dan laki-laki harus pandai menangkap perasaan perempuan. Hanya itu kok kuncinya.”

Setelah pertemuan di Metro TV, akhir Agustus tahun lalu itu, kami saling berjanji untuk bertemu. Beberapa kali Mas Deddy mengontak saya, tapi pertemuan yang kami rencanakan tak pernah terjadi, hingga pagi ini saya membaca berita Deddy Dores meninggal. Saya tentu saja bersedih karena belum menunaikan janji untuk bertemu dan menulis tentang album barunya. Album yang tampaknya akan berisi lagu-lagu tentang pertobatan.

Sugeng tindak Mas. Al-Fatihah untuk sampean. Salamku untuk Fifi.

*Sebagian besar isi tulisan ini adalah status Facebook, 28 Agustus 2015.

[Status Facebook Rusdi Mathari]

This Is The Oldest Page


EmoticonEmoticon