Tuesday, September 27, 2016

BELAJAR GITAR

Voja, anak kelas 1 SMA itu, sudah lebih sebulan ikut kursus gitar. Gurunya seorang gitaris ternama, dan Voja beruntung, karena dia adalah murid pertama dan satu-satunya yang bisa disebut sebagai murid gitaris itu. Bagi Voja, ikut kursus gitar itu sebetulnya agak terlambat jika dibandingkan dengan kursus yang sama yang pernah saya ikuti. Saya ikut kursus gitar saat kelas 6 SD meskipun hingga kelas 3 SMP, dan hingga sekarang, saya hanya mampu memainkan satu lagu: Love Hurt-nya Nazareth dengan kunci G, E minor, C dan D itu. Tak ada yang lain, dan hanya kunci-kunci itu yang saya tahu, yang saya hafal.

Untungnya Voja berbeda dengan saya. Hanya dalam waktu dua-tiga minggu, dia sudah menguasai kunci-kunci dasar. Dan sejak melihat Voja memegang gitar, gurunya tampaknya tahu, dia memang anak berbakat, dan karena itu, dia bersedia menjadi guru gitar Voja. Jari-jari Voja memang lentik dan lebih lembut dibandingkan jari-jari saya yang penulis. Mirip jari-jari anak perawan.

Beberapa hari yang lewat, Voja bercerita, guru gitarnya bertanya tentang “target” lagu yang akan dia mainkan di kursus pekan depan. Voja menjawab akan memainkan Buried Alive dan gurunya agak kaget mendengar judul lagu itu. Kata gurunya, lagu itu cukup susah bagi pemula sebab banyak memainkan kunci-kunci minor, tapi dia mempersilakan Voja untuk mencoba, dan Voja tentu saja tidak alang kepalang senang akan diberi kesempatan memainkan lagu Avenged Sevenfold itu.

Problemnya: Dia tak punya gitar. Selama kursus, dia hanya menggunakan gitar milik gurunya di tempat kursus. Gitar-gitar dari merek-merek ternama, yang niscaya bagus kualitas bahan baku dan juga suaranya. Tapi tak punya gitar, tak mengurangi minat Voja untuk belajar gitar. Gurunya juga melarang saya untuk tidak kesusu membelikan Voja gitar karena menurutnya, “bakat” Voja belum ketahuan benar untuk memegang gitar jenis apa: CS40 atau C80; saya tidak mengerti.

Lalu dua hari lalu, Voja mengajak saya agar menemaninya membeli gitar di gerai yang disebut oleh gurunya bila Voja atau saya hendak membeli gitar. Saya terperangah, dan tentu saja, itu bukan karena soal kemauan Voja untuk membeli dan punya gitar sendiri, melainkan karena tanggal-tanggal seperti sekarang adalah tanggal-tanggal yang tanggung bagi penulis semacam saya sebab honor-honor tulisan saya belum akan dibayarkan. Tapi sekali lagi, Voja berbeda dengan saya, dan dia tahu, problem saya.

“Tenang Pa, Voja ada uang.”

“Darimana?”

“Ngumpulin dari uang saku yang diberi Papa.”

Setiap pagi, bila hendak bersekolah, saya hanya menitipkan uang saku 20 ribu untuk Voja. Uang yang saya perkirakan cukup untuknya membeli makan siang di sekolahnya. Lalu kepada saya, dia bilang punya uang dari hasil mengumpulkan sisa uang saku sekolahnya, dan dengan uang itu akan dia belikan gitar?

Ya Allah. Saya tak berpikir panjang dan segera mengiyakan ajakannya. Kami berencana membeli gitar besok malam. Dan sebagai pengisi waktu latihan menghadapi kelas gitar pekan depan, malam ini Voja hanya berlatih bernyanyi Buried Alive sembari menyebut kunci-kunci permainan gitarnya.

“Kenapa kamu ingin memainkan lagu itu, Vo?”

“Suka aja. Kenapa, Pa?”

“Kenapa tidak lagu Rhoma Irama saja?”

“Ah, Papa...”

Voja nyengir. Saya terkekeh. Menjelang dia tidur, saya mendengar dari kamarnya mengalun lagu Carry on My Wayward Son milik grup band Kansas. Saya mengenalkan lagu itu sejak Voja masih bersekolah SD. Lagu yang bercerita agar orang tidak cengeng, tak perlu menangis, tak perlu sok bijak, tak perlu sok jaim.

Lay your weary head to rest, Vo. Don't you cry no more. Surely heaven waits for you.

[Status Facebook Rusdi Mathari]


EmoticonEmoticon