“Tumblers (Mother and Son)” lukisan Picasso itu tergantung di satu dinding ruang tamu. Lukisan yang menyedihkan. Dan perempuan pemilik rumah sengaja meletakkan lukisan itu di ruang tamunya yang sempit. Dia tampaknya ingin para tamunya memandangi “Tumblers” lalu membayangkan, di luar sana, banyak manusia yang membutuhkan pertolongan.
“Berpikirlah dan berbuatlah untuk manusia lain tanpa alasan apa pun.”
Perempuan berusia 76 tahun itu memang mencintai manusia. Dia adalah Gretha Zahar. Doktor kimia nano yang pernah mempertahankan desertasi tentang radiasi di ujung 1979. Dia juga penemu metode pengobatan balur tembakau [divine kretek] yang menggegerkan itu, yang ditolak oleh dunia kedokteran yang komersil. Selama 50 tahun, sekitar 650 PhD yang digerakkan oleh produsen rokok besar di luar negeri menyelidiki penemuannya. Hasilnya: mereka semua harus gigit jari.
“Saya tidak pernah mematenkan penemuan saya. Buat apa? Sekali dipatenkan, penemuan saya akan diproduksi besar-besaran untuk tujuan komersil, dan penemuan saya itu akan tidak bermanfaat.”
Penemuan Bu Gretha memang kontroversial. Sewaktu desertasinya masih berupa abstrak, profesor-profesor dari Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang akan mengujinya bahkan meminta agar membuang abstraksinya ke tempat sampah. Teorinya dianggap mustahil. Bu Gretha bergeming. Dia kemudian bahkan mampu membuktikan untuk menangkap radiasi pada 10 minus 5 hingga 10 minus 7 [detik] dan itu ditemukannya lewat tembakau. Pengujinya terperangah.
“Tembakau itu punya power. Ia laki-laki.”
Di rumahnya, di satu gang sempit di Kampung Melayu, Jakarta, saya melihat abu-abu rokok yang diisapnya dikumpulkan. Menumpuk seperti gunung kecil. Abu rokok itulah yang dijadikannya sebagai bahan pencampur makanan dan menanak nasi agar nasi tidak cepat berkeringat dan basi. Dijadikan bahan pengobatan. Bu Gretha menyebutnya sebagai “Strategi bagi dunia merehabilitasi tembakau ciptaan Tuhan yang berfungsi sebagai penyembuh. Kearifan leluhur.”
Masalahnya, siapa yang peduli dengan Bu Gretha dan temuannya?
Sudah cukup lama dia dianggap ilmuwan aneh. Dikucilkan. Bukan semata karena temuannya, melainkan karena dia menolak ilmu kedokteran yang dipaksakan oleh dunia moderen. Balai pengobatannya dibeslah. Selalu digerebek oleh mereka yang merasa sebagai pemegang satu-satunya otoritas tentang kesehatan dan pengobatan. Dianggap menyesatkan, meski banyak pasien yang tidak tertolong oleh metode pengobatan dunia medis yang dianggap sah dan moderen, terbukti terobati dengan metode balur kreteknya.
Bu Gretha, perempuan pemeluk Katolik yang saleh itu, memang sudah sejak lama menolak beberapa prinsip pengobatan kedokteran yang sudah dikuasai oleh banyak kepentingan rente. Dia tidak percaya vaksinasi. Tidak percaya pada obat-obat yang diproduksi. Menolak amalgam yang antara lain digunakan untuk menambal gigi karena mengandung mercuri, logam berat yang berbahaya.
“Tidak ada orang pintar, tapi di sini, apa kata orang bule akan selalu dipercaya dan diikuti. Mereka yang mengaku ilmuwan hanya membuktikan yang sudah ada. Mereka tidak pernah membuktikan yang tidak ada.”
Tadi malam, saya mengunjungi Bu Gretha di rumahnya di gang sempit itu. Dia menunjukkan dan membuktikan pada saya: bagaimana asap tembakau dan abunya bekerja. Dia bahkan menyendokkan dua sendok abu rokok ke mangkuk sup yang disuguhkan pada saya. Tentu, Anda boleh tidak percaya, dan itu hak Anda. Saya hanya memegang prinsip, tidak semua hal bisa dianalisis kecuali pikiran Anda memang (ingin) ruwet, atau Anda ingin nampak berkelas dan terlihat pintar.
“Kalau ada orang lain datang padamu meminta tolong, tolonglah. Tak perlu kamu bertanya alasannya meminta bantuan karena hal itu akan mendorongnya membuat narasi untuk berbohong. Saya tidak suka kebohongan. Tidak menyukai orang yang bertanya dan berteori dengan ‘karena’ atau ‘tapi.’ Andai saya juga menjelaskan, mereka tidak akan mengerti. Kalau pun mengerti, tidak akan menerima karena pada dasarnya, mereka sudah menolak.”
Saya memandangi lukisan Picasso sekali lagi sesaat setelah berpamitan pulang pada Bu Gretha. Pada lukisan itu, saya seperti melihat diri saya yang hanya sesumbar dan terus sesumbar mencintai, membantu dan menyelamatkan manusia, sembari diam-diam berusaha mengambil keuntungan. Memperdagangkannya.
[Status Facebook Rusdi Mathari]

EmoticonEmoticon