Thursday, May 19, 2016

LADA


"La payo sekarang di Bangka. Sejak timah habis, makin sulit hidup di sini."

Supir taksi gelap di Bandara Dipati Amir itu memperkenalkan dirinya bernama Mauk. Dari logatnya, Pria paruh baya beranak dua itu memang bukan kelahiran Pangkal Pinang.

"Saya 18 tahun lebih merantau ke sini. Aslinya kame ni wong kito galo... Plembang," ujar bapak dua anak ini membuka cerita.

Mauk bermigrasi ke Kota Terasi saat Pulau Bangka dan Belitung masih berstatus kabupaten dalam otoritas Provinsi Sumsel. Iming-iming peningkatan kesejahteraan paska eksploitasi timah secara massif lah yang membuatnya tergiur mengadu peruntungan di Bangka.

Semenjak PT Timah mengeduk perut bumi Bangka pada 1976, dan diikuti berbagai perusahaan tambang timah lainnya, komoditas itu menggantikan lada yang telah berabad-abad menjadi penopang utama perekonomian Bangka-Belitung.

Menurut Hongky Lie, warga asli Pangkalpinang yang turun temurun aktif dalam perdagangan di Babel, tanaman monokotil yang tumbuh merambat itu sebenarnya telah menguasai pasar bumbu dunia, sejak abad ke-12.

"Sebelum Belanda menancapkan kolonialisme, bahkan sebelum Babel menjadi bagian kerajaan Sriwijaya, sudah banyak pedagang dari Gujarat, Vietnam dan Tiongkok yang datang ke sini, khusus mencari lada. Dari merekalah lada Bangka masuk ke Eropa," ujar warga peranakan tersebut.

Hongky seorang muallaf yang berprofesi sebagai arsitek, salah satu masjid besar di Pangkalpinang merupakan hasil karyanya, memaparkan bahwa jaman dulu lada telah menjadi politik dagang di era kerajaan. Pengaruh kerajaan Sriwijaya dan Malaka yang meluas hingga ke daratan Tiongkok tak lepas dari peran penting lada.

Sejak dulu, lada yang bernama latin Pipper Albi Linn itu dikenal sebagai bumbu utama untuk berbagai jenis masakan. Seiring perkembangan waktu, lada bahkan diketahui memiliki kemampuan untuk menekan munculnya kanker terutama prostat. Lada yang biasa disebut sahang oleh warga Babel, kaya akan lemak pati dan memiliki rasa panas dan pedas dalam tubuh.

Masa keemasan lada di Babel terutama di era 90-an. Kala itu, lada Babel ditaksir menguasai 60% market dunia. Vietnam dan Thailand bahkan sampai mengirim para sarjana dan penelitinya ke Babel untuk belajar penanaman lada.

Sayangnya era keemasan itu berakhir pada 2003, saat masyarakat daerah ini banyak beralih ke timah. Saat itulah pangsa pasar lada Babel mulai tergerus oleh lada asal Vietnam dan Thailand, dua negara yang awalnya belajar pengelolaan lada dari Babel.

Kini setelah deposit timah sudah habis, Pemprov Babel seolah gamang. Antara membesarkan sektor pariwisata terlebih dahulu, atau mendukung lada untuk menjadi penopang utama provinsi pecahan Sumsel tersebut.

Hal itu tak lepas dari ditetapkannya wilayah Tanjung Kelayang di Belitung, sebagai Kawasan Ekonomi Khusus pariwisata oleh pemerintah pusat pada Maret 2016. Padahal, kedua sektor itu bisa saling mendukung. Bukan tak mungkin perkebunan lada juga bisa menjadi destinasi wisata, laiknya Prancis dan Italia yang menjadikan kebun anggurnya sebagai tujuan wisata turis mancanegara.

Nurdin, seorang petani lada di Bangka Selatan, menaruh harapan besar, lada Babel akan kembali menjadi penopang utama kehidupan mereka. Apalagi, kebutuhan lada dunia masih sangat tinggi dengan harga yang bagus.

Saat ini, harga lada di pasar ekspor mencapai US$ 12.500 per metrik ton. Sementara, harga lada dari petani berkisar Rp 120 ribu - Rp 200 ribu per kilo tergantung kualitasnya. Kebutuhan dunia terhadap lada masih amat besar, diperkirakan mencapai 70 ribu ton per tahun.

"Kami membutuhkan dukungan pemerintah dan pihak terkait. Terutama dalam hal benih, pengelolaan dan pemasaran. Jangan sampai kami seperti tikus di lumbung padi," ujar Nurdin.

Nurdin yang hijrah ke Babel dari Bima, NTB sejak tahun 90-an itu optimis, lada Babel yang dikenal dengan brand Muntok White Pepper itu bisa kembali berjaya, seperti dahulu kala... semoga!

[Status Facebook Febry Mahimza]


EmoticonEmoticon