Gedung sekolah rusak dapat mengancam jiwa. Tapi pengetahuan yang musnah, juga tak kalah berbahaya. Di kelas jauh SD Sabeugunggung, Pagai Utara, Kepulauan Mentawai ini, Pak Guru Leisa Saogo mengaku tak mendapati perubahan kurikulum atau muatan lokal terkait ancaman bencana untuk diajarkan kepada anak didiknya.
Pengetahuan soal bencana ia berikan atas inisiatif sendiri dan bahan-bahan dari para relawan. Termasuk lagu-lagu.
Dulu, orang Mentawai memaknai gempa (siang hari) sebagai pertanda datangnya musim buah-buahan. Masyarakat tak kenal konsep tsunami. Tak ada istilah lokal untuk tsunami meski Mentawai termasuk daerah rawan bencana dan tsunami sebelumnya tercatat tahun 1871. Padahal, sebagian wilayah seperti pulau Pagai Selatan dan Utara mengenal istilah gu'gu' (ombak besar).
Namun karena pengetahuan ini tak "diawetkan", setelah peristiwa gempa dan smong (tsunami) Aceh, media dan para relawan seolah membawa "pengetahuan baru" tentang tsunami.
Pengetahuan baru itu di antaranya mengajarkan: bila terjadi gempa besar dan lama (sampai orang dewasa tidak sanggup berdiri), lalu air laut surut, maka warga harus berlari ke bukit dan menjauhi pantai karena 10-15 menit kemudian, akan datang gelombang besar.
Setelah enam tahun hidup dengan pengetahuan baru dari Aceh itu, tibalah pada 25 Oktober 2010, jam 9 malam. Gempa singkat dan guncangan dirasakan biasa. Televisi yang sedang menyiarkan sinetron, tidak lagi memberikan alarm "breaking news" atau "stop press" tentang potensi tsunami. Sebagian warga tetap menonton TV.
Lima menit kemudian --bukan 10-15 menit seperti di Aceh-- tsunami dari Samudra Hindia menyapu desa-desa di pesisir barat. 426 orang tewas karena tak sempat melarikan diri. Dusun Sabeugunggung, asal Pak Guru Leisa, adalah kampung yang paling banyak korban, termasuk putrinya yang berusia 2 tahun.
Pengetahuan baru tentang tsunami segera direvisi karena karakter Mentawai berbeda dengan Aceh atau daerah lain. Tak ada lagi rumus baku. Kini setiap ada gempa, semua memilih lari ke bukit, ada atau tidak ada peringatan potensi tsunami dari pemerintah dan televisi. Bahkan mereka yang tinggal di Muara Siberut (pantai timur) dan secara teori tidak menghadapi langsung ancaman "megathrust".
Namun setelah 6 tahun, negara dan barisan intelektual lewat sistem pendidikannya, tak segera merumuskan dan mengawetkan pengetahuan dan pengalaman ini. Tapi ini tidak hanya di Mentawai.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan "tsunami" sebagai gelombang besar "yang umumnya terjadi di Jepang". Sangat memprihatinkan.
17 Februari 1674, gempa dan tsunami telah terjadi di Ambon dan Seram yang menewaskan 2.322 orang. Jumlah korban yang fantastis mengingat rasio kepadatan penduduk dibanding saat ini. Adakah pengetahuan yang diawetkan atau istilah lokal untuk ini?
Agustus 1883, saat Krakatau meletus, juga diikuti tsunami di Selat Sunda hingga Teluk Betung, Bandar Lampung. Adakah pengetahuan dan istilah lokal yang diawetkan lewat strategi kebudayaan kita?
1907, pulau Simeulue di Aceh juga disapu tsunami. Pengalaman ini diawetkan dalam istilah smong dan menjadi nyanyian. Dampaknya sudah sering dikisahkan. Ketika terjadi tsunami 2004, Aceh daratan kehilangan ratusan ribu jiwa, sementara pulau Simeulue yang terletak di tengah samudra kehilangan 6 jiwa saja.
Entah mengapa, para ahli bahasa tak kunjung menyerap istilah lokal untuk memberi tekanan psikologis pada kepentingan mitigasi bencana bahwa tsunami bukan barang impor dari Jepang. Tsunami ada dan dekat bersama kita sepanjang sejarah Nusantara. Bandingkan dengan kelincahan melokalkan istilah-istilah IT seperti "mouse" menjadi "tetikus" atau "e-mail" menjadi "surel". Atau di dunia politik dari "incumbent" menjadi "petahana".
Tahun 1980-an, warga Dusun Asahan di pulau Pagai Utara, Mentawai, pernah didatangi seorang peneliti asing dan mengingatkan warga setempat tentang ancaman datangnya gelombang besar, jauh sebelum peristiwa Aceh atau peringatan dari para ahli kita tentang ancaman "Mentawai atau Sumatra Megathrust".
Warga lokal --seperti dituturkan seorang pria asal Dusun Purourogat bernama Erdiman yang kami temui-- saat itu mengindahkan peringatan tersebut dengan mengalokasikan sebuah bukit untuk evakuasi. Bukit itu ditanami tanaman pangan untuk persiapan pengungsian. Bukit itu diberi nama Leuleu Gu'gu' artinya "gunung ombak besar", yang memang dipersiapkan untuk menghadapi tsunami.
Setelah peristiwa Aceh 2004, pemerintah NKRI mendorong relokasi warga dusun Asahan ke lokasi lain untuk berjaga-jaga. Tapi bukan ke bukit yang sudah mereka siapkan sendiri.
Ini juga contoh bagaimana pengetahuan lokal yang susah payah berusaha diawetkan oleh warga, diabaikan begitu saja tanpa memberi alternatif sistem pengetahuan baru.
Sepekan keluar masuk pedalaman Mentawai, saya terus diyakinkan bahwa negara ini memang senang memelihara ingatan pendek yang memusnahkan pengetahuan. Bukan memeliharanya. Bahkan meski itu menyangkut pengetahuan tentang hidup dan mati warganya.
Pengetahuan soal bencana ia berikan atas inisiatif sendiri dan bahan-bahan dari para relawan. Termasuk lagu-lagu.
Dulu, orang Mentawai memaknai gempa (siang hari) sebagai pertanda datangnya musim buah-buahan. Masyarakat tak kenal konsep tsunami. Tak ada istilah lokal untuk tsunami meski Mentawai termasuk daerah rawan bencana dan tsunami sebelumnya tercatat tahun 1871. Padahal, sebagian wilayah seperti pulau Pagai Selatan dan Utara mengenal istilah gu'gu' (ombak besar).
Namun karena pengetahuan ini tak "diawetkan", setelah peristiwa gempa dan smong (tsunami) Aceh, media dan para relawan seolah membawa "pengetahuan baru" tentang tsunami.
Pengetahuan baru itu di antaranya mengajarkan: bila terjadi gempa besar dan lama (sampai orang dewasa tidak sanggup berdiri), lalu air laut surut, maka warga harus berlari ke bukit dan menjauhi pantai karena 10-15 menit kemudian, akan datang gelombang besar.
Setelah enam tahun hidup dengan pengetahuan baru dari Aceh itu, tibalah pada 25 Oktober 2010, jam 9 malam. Gempa singkat dan guncangan dirasakan biasa. Televisi yang sedang menyiarkan sinetron, tidak lagi memberikan alarm "breaking news" atau "stop press" tentang potensi tsunami. Sebagian warga tetap menonton TV.
Lima menit kemudian --bukan 10-15 menit seperti di Aceh-- tsunami dari Samudra Hindia menyapu desa-desa di pesisir barat. 426 orang tewas karena tak sempat melarikan diri. Dusun Sabeugunggung, asal Pak Guru Leisa, adalah kampung yang paling banyak korban, termasuk putrinya yang berusia 2 tahun.
Pengetahuan baru tentang tsunami segera direvisi karena karakter Mentawai berbeda dengan Aceh atau daerah lain. Tak ada lagi rumus baku. Kini setiap ada gempa, semua memilih lari ke bukit, ada atau tidak ada peringatan potensi tsunami dari pemerintah dan televisi. Bahkan mereka yang tinggal di Muara Siberut (pantai timur) dan secara teori tidak menghadapi langsung ancaman "megathrust".
Namun setelah 6 tahun, negara dan barisan intelektual lewat sistem pendidikannya, tak segera merumuskan dan mengawetkan pengetahuan dan pengalaman ini. Tapi ini tidak hanya di Mentawai.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan "tsunami" sebagai gelombang besar "yang umumnya terjadi di Jepang". Sangat memprihatinkan.
17 Februari 1674, gempa dan tsunami telah terjadi di Ambon dan Seram yang menewaskan 2.322 orang. Jumlah korban yang fantastis mengingat rasio kepadatan penduduk dibanding saat ini. Adakah pengetahuan yang diawetkan atau istilah lokal untuk ini?
Agustus 1883, saat Krakatau meletus, juga diikuti tsunami di Selat Sunda hingga Teluk Betung, Bandar Lampung. Adakah pengetahuan dan istilah lokal yang diawetkan lewat strategi kebudayaan kita?
1907, pulau Simeulue di Aceh juga disapu tsunami. Pengalaman ini diawetkan dalam istilah smong dan menjadi nyanyian. Dampaknya sudah sering dikisahkan. Ketika terjadi tsunami 2004, Aceh daratan kehilangan ratusan ribu jiwa, sementara pulau Simeulue yang terletak di tengah samudra kehilangan 6 jiwa saja.
Entah mengapa, para ahli bahasa tak kunjung menyerap istilah lokal untuk memberi tekanan psikologis pada kepentingan mitigasi bencana bahwa tsunami bukan barang impor dari Jepang. Tsunami ada dan dekat bersama kita sepanjang sejarah Nusantara. Bandingkan dengan kelincahan melokalkan istilah-istilah IT seperti "mouse" menjadi "tetikus" atau "e-mail" menjadi "surel". Atau di dunia politik dari "incumbent" menjadi "petahana".
Tahun 1980-an, warga Dusun Asahan di pulau Pagai Utara, Mentawai, pernah didatangi seorang peneliti asing dan mengingatkan warga setempat tentang ancaman datangnya gelombang besar, jauh sebelum peristiwa Aceh atau peringatan dari para ahli kita tentang ancaman "Mentawai atau Sumatra Megathrust".
Warga lokal --seperti dituturkan seorang pria asal Dusun Purourogat bernama Erdiman yang kami temui-- saat itu mengindahkan peringatan tersebut dengan mengalokasikan sebuah bukit untuk evakuasi. Bukit itu ditanami tanaman pangan untuk persiapan pengungsian. Bukit itu diberi nama Leuleu Gu'gu' artinya "gunung ombak besar", yang memang dipersiapkan untuk menghadapi tsunami.
Setelah peristiwa Aceh 2004, pemerintah NKRI mendorong relokasi warga dusun Asahan ke lokasi lain untuk berjaga-jaga. Tapi bukan ke bukit yang sudah mereka siapkan sendiri.
Ini juga contoh bagaimana pengetahuan lokal yang susah payah berusaha diawetkan oleh warga, diabaikan begitu saja tanpa memberi alternatif sistem pengetahuan baru.
Sepekan keluar masuk pedalaman Mentawai, saya terus diyakinkan bahwa negara ini memang senang memelihara ingatan pendek yang memusnahkan pengetahuan. Bukan memeliharanya. Bahkan meski itu menyangkut pengetahuan tentang hidup dan mati warganya.
[Status Facebook Dandhy Dwi Laksono]

EmoticonEmoticon