Saya kadang geli kalau mendengar slogan dalam Pilgub atau sejenisnya: "Mari kita bertarung program." Atau: "Ini ajang kontestasi gagasan."
Anda bisa cek di lembaga-lembaga survei, di nomor berapakah para pemilih meletakkan sesuatu yang namanya 'program' atau 'gagasan'. Kalau mereka mau jujur, maka kita bakal bilang: tembelek. Tidak ada. Itu hanya omongan kaum intelektual yang ingin mencoba menyelamatkan demokrasi kita, atau karena begitulah buku teks tentang demokrasi langsung.
Pertama dan utama, pemilih memilih seseorang karena uang dan atau sejenisnya. Apa itu sejenisnya? Misalnya: sumbangan tempat ibadah dan fasilitas umum lain. Selain itu dorongan kelembagaan dan komunitas. Makanya SKPD penting dalam pemilihan macam ini. Lembaga-lembaga yang mengakar kuat juga sangat penting. Di keluarga (komunitas terkecil) memang ada perbedaan preferensi pilihan, tapi yang jarang diungkap adalah justru dari keluargalah salah satu sumber preferensi itu muncul. Selain itu baru kemudian 'prejengan' (citra visual dan kehadiran ke publik secara langsung).
Maka itu, kemenangan balon mensyaratkan satu hal: tim kemenangan yang kuat.
Banyak orang salah sangka karena mereka berpikir cara mudah menang adalah dengan uang. Politik uang itu memang ada. Nyata. Tapi bukan berarti gampang dilakukan. Itu yang menjelaskan kenapa bupati dengan modal 20 miliar menang melawan bupati dengan modal 50 miliar. Mereka pikir bagi-bagi uang itu mudah. Padahal susahnya setengah mati. Ada yang uangnya berhenti di timsesnya, ada yang dimakan sendiri oleh tokoh masyarakat yang dipercaya membagikan, ada yang diuntal sendiri oleh koordinator kampung, ada yang salah sasaran, dll.
Orang yang bilang bahwa pilgub atau pilbup adalah soal adu program dan kontestasi gagasan, itu menggelikan. Tapi kalau ada orang yang bilang politik uang adalah cara mudah untuk menang, juga ngaco. Dia pikir bagi-bagi uang itu gampang.
Maka itu, mau caranya halal, mau haram, satu yang pasti: tim pemenangan harus kuat, dan sistemnya harus baik. Tanpa itu, uang yang dibagikan langsung maupun untuk menjalankan kegiatan, bakal ditilep dan dicopet.
Di Indonesia, memang jumlah copet berkurang. Tapi copet di bus Pilkada makin banyak. Maka tidak heran, sesama copet kadang bercanda, "Kamu itu goblok, balon gak bawa dompet kok mau kamu copet..."
Atau ada juga yang bilang, "Kamu salah milih bus. Memang benar dompet calonmu tebal, tapi busnya sudah penuh copet."
Nah, yang lucu, orang-orang yang tulus membantu karena kesamaan visi, walaupun jumlahnya gak banyak, ikut kecopetan pula. Begitu mereka kecopetan, pilihannya ada dua: ikut nyopet, atau turun dari bus sambil teriak, "Kopet!"
Anda bisa cek di lembaga-lembaga survei, di nomor berapakah para pemilih meletakkan sesuatu yang namanya 'program' atau 'gagasan'. Kalau mereka mau jujur, maka kita bakal bilang: tembelek. Tidak ada. Itu hanya omongan kaum intelektual yang ingin mencoba menyelamatkan demokrasi kita, atau karena begitulah buku teks tentang demokrasi langsung.
Pertama dan utama, pemilih memilih seseorang karena uang dan atau sejenisnya. Apa itu sejenisnya? Misalnya: sumbangan tempat ibadah dan fasilitas umum lain. Selain itu dorongan kelembagaan dan komunitas. Makanya SKPD penting dalam pemilihan macam ini. Lembaga-lembaga yang mengakar kuat juga sangat penting. Di keluarga (komunitas terkecil) memang ada perbedaan preferensi pilihan, tapi yang jarang diungkap adalah justru dari keluargalah salah satu sumber preferensi itu muncul. Selain itu baru kemudian 'prejengan' (citra visual dan kehadiran ke publik secara langsung).
Maka itu, kemenangan balon mensyaratkan satu hal: tim kemenangan yang kuat.
Banyak orang salah sangka karena mereka berpikir cara mudah menang adalah dengan uang. Politik uang itu memang ada. Nyata. Tapi bukan berarti gampang dilakukan. Itu yang menjelaskan kenapa bupati dengan modal 20 miliar menang melawan bupati dengan modal 50 miliar. Mereka pikir bagi-bagi uang itu mudah. Padahal susahnya setengah mati. Ada yang uangnya berhenti di timsesnya, ada yang dimakan sendiri oleh tokoh masyarakat yang dipercaya membagikan, ada yang diuntal sendiri oleh koordinator kampung, ada yang salah sasaran, dll.
Orang yang bilang bahwa pilgub atau pilbup adalah soal adu program dan kontestasi gagasan, itu menggelikan. Tapi kalau ada orang yang bilang politik uang adalah cara mudah untuk menang, juga ngaco. Dia pikir bagi-bagi uang itu gampang.
Maka itu, mau caranya halal, mau haram, satu yang pasti: tim pemenangan harus kuat, dan sistemnya harus baik. Tanpa itu, uang yang dibagikan langsung maupun untuk menjalankan kegiatan, bakal ditilep dan dicopet.
Di Indonesia, memang jumlah copet berkurang. Tapi copet di bus Pilkada makin banyak. Maka tidak heran, sesama copet kadang bercanda, "Kamu itu goblok, balon gak bawa dompet kok mau kamu copet..."
Atau ada juga yang bilang, "Kamu salah milih bus. Memang benar dompet calonmu tebal, tapi busnya sudah penuh copet."
Nah, yang lucu, orang-orang yang tulus membantu karena kesamaan visi, walaupun jumlahnya gak banyak, ikut kecopetan pula. Begitu mereka kecopetan, pilihannya ada dua: ikut nyopet, atau turun dari bus sambil teriak, "Kopet!"
[Status Facebook Puthut EA]

EmoticonEmoticon