Friday, September 2, 2016

HARUSKAH MANUSIA BERAGAMA?

Haruskah umat manusia itu bergama atau memiliki "agama"? Jawabnya singkat: "tidak". Perlukah manusia beragama? Jawabnya gampang: "perlu tidak perlu". Artinya, perlu bagi yang memerlukan (agama) dan tidak perlu bagi yang tidak memerlukan (agama). Apakah untuk menjadi baik dan "saleh", orang memerlukan agama? Jawabnya juga mudah: "tidak perlu". "Onderdil" manusia ini sudah sangat lengkap dengan aneka ragam panca-indra dan peralatan yang mampu menuntun manusia menjadi ini dan itu. Jadi, untuk mengetahui baik-buruk terhadap sesuatu, seseorang tidak perlu agama.

Di dunia ini ada ratusan juta dan bahan milyaran manusia yang tidak mengenal "agama formal". Di jagat raya ini ada ratusan juta pengikut ateisme, agnotisisme atau sekularisme. Tetapi mereka baik-baik saja, "sehat wal afiat". Banyak sekali orang-orang mulia di bumi pertiwi ini yang hidupnya didarmakan untuk umat manusia dan kemanusiaan tanpa harus ada embel-embel agama ini dan itu.

Apakah amal baik mereka selama di dunia menjadi sia-sia hanya karena tidak "secara formal" beragama? Wah itu urusan Zat "sang pengecat lombok". Apakah mereka kelak masuk surga atau neraka juga bukan urusan manusia. Bukankah masalah "dunia akhirat" itu juga produk dari "tafsir" agama-agama tertentu?

Soal "alam akhirat" itu "urusan nanti" dan menjadi hak prerogatif Tuhan yang maha bijak dan adil. Jangan sekali-sekali ke-ge-er-an masuk surga kelak hanya karena menganut agama ini-itu. Tugas manusia di dunia ini adalah merawat dan menjaga harmoni alam semesta beserta isinya, termasuk umat manusia.

Apalah artinya beragama dan mengaku-aku sebagai "manusia agamis", kalau ternyata perilaku individual dan sosialnya amburadul serta jauh dari norma-norma dan nilai-nilai kemanusiaan. Saya melihat banyak orang tidak beragama yang hidupnya "sangat humanis" dan "agamis" sementara banyak manusia yang mengaku beragama tetapi hidupnya bengis, "tidak agamis" dan tidak manusiawi. Karena itu saya pikir dewasa ini, banyak orang beragama yang justru membutuhkan "agama" itu sendiri. Mikirrr...

[Status Facebook Sumanto Al-Qurtuby]

BERAS PAPUA RASA AMERIKA

Kedutaan Besar RI di Washington, AS men-tweet acara pertemuan Bupati dan mantan Bupati Merauke dengan kelompok yang menamakan diri "Indonesian Diaspora Academics USA" (akademisi Indonesia yang tinggal di Amerika).

Para pakar itu mempresentasikan konsep "sawah tekno sejuta hektar". Sebuah ide yang sudah digagas sejak era Presiden SBY dengan bendera MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate).

Tapi kali ini judulnya diubah: Papua International Rice Research Center (PIRRC). Esensinya sama: meneruskan ambisi Presiden Jokowi yang ingin menjadikan Papua lumbung beras nasional dengan mencetak 1,2 juta hektar sawah dalam tempo 3 tahun dengan sistem "full-mekanis".

Sistem ini tidak mengandalkan tenaga manusia dan konon satu orang bisa mengelola 5 hektar dengan bantuan mesin harvester dll. (dalam pola konvensional, 1 Ha sawah membutuhkan setidaknya 5 tenaga kerja).

Hasilnya juga fantastis. Seperti dalam info-grafis ini, bila 1 Ha sawah konvensional hanya menghasilkan 3 ton beras dengan 2 kali panen setahun, PIRRC akan mendongkraknya hingga 100 persen menjadi 6 ton dengan panen 2-3 kali setahun.

Pertama kali mendengar ide ini tahun 2010-2011, siapa yang tak berdecak kagum. Swasembada beras akan terwujud, 30 persen beras nasional akan dipasok dari Papua, dan sawah akan dikelola seperti pertanian gandum di Amerika atau Eropa.

Sampai kemudian di lapangan ditemukan fakta-fakta sebagai berikut yang sebagian substansinya telah kami dokumentasikan dalam film "The Mahuzes".

Pertama, ambisi menyulap Papua yang pemakan sagu menjadi lumbung beras bukan hanya milik SBY atau Jokowi, namun sudah sejak Belanda dengan proyek "sawah Kombe" di Distrik Kurik tahun 1951-1953 untuk memenuhi kebutuhan di Pasifik Selatan.

Proyek Kombe juga sudah mengadopsi konsep mekanisasi pertanian. Bekas-bekasnya masih dapat disaksikan hingga kini. Mereka sudah memakai harvester, membangun rel kereta api untuk memindahkan gabah, dan sistem pengeringan gabahnya sudah memakai oven (bukan dijemur seperti pengeringan konvensional yang butuh waktu dan lahan yang luas).

Ke dua, dibutuhkan 50 tahun untuk mencetak 46.000 hektar sawah di Merauke. Salah satu sebabnya karena memang tidak ada budaya bercocok tanam. Masyarakat lokal hidup dengan sistem meramu dari hasil hutan seperti sagu dan berburu binatang. Sawah dikerjakan oleh para transmigran asal Jawa hingga hari ini.

Ke tiga, luas Merauke hanya 4,6 juta hektar di mana menurut riset WWF Papua hanya tersisa 500 ribu hektare saja yang dianggap masih "dapat dimanfaatkan". Itu pun sejatinya ada yang punya, yakni masyarakat adat yang menggantungkan kehidupannya dari hasil hutan, rawa, dan sungai.

Tanpa sawah sejuta hektar pun, Merauke hingga Boven Digoel sudah masuk dalam radar jumlah titik api kebakaran hutan karena maraknya perkebunan kelapa sawit dalam 10 tahun terakhir.

Ke empat, proyek sawah sejuta hektar di lahan gambut di Kalimantan Tengah pada masa Presiden Soeharto tahun 1996 yang gagal total mestinya cukup menjadi pelajaran, bahwa sistem pertanian yang dilakukan secara massal dengan membongkar hutan dalam skala besar, akan menuai bencana yang ongkosnya terus kita bayar hingga hari ini berupa kabut asap.

Ke lima, dengan konsep full-mekanisasi pertanian, jelas membutuhkan modal. Pada akhirnya model bisnis yang dikembangkan adalah sawah milik perusahaan seperti yang telah dilakukan Medco Group di Merauke hari ini. Masyarakat tak memiliki basis produksi atas pangannya sendiri. Mereka akan menjadi buruh atau tuan penyewa tanah dengan menunggu bagi hasil.

Investor kelapa sawit pun kini mulai menjajaki sawah tekno seperti terekam di "The Mahuzes".

Ke enam, seperti pada industri mono-kultur lainnya, pembukaan lahan sebesar itu untuk sawah perusahaan jelas akan memicu konflik tanah atau agraria. Tak heran bila di foto acara ini, selain ada ilmuwan, juga ada tentara dan polisi. Sebab merekalah yang selama ini mengamankan kepentingan investasi dan berhadapan dengan masyarakat.

Ke tujuh, konsentrasi produksi pangan di satu lokasi bertentangan dengan komitmen bersama mengurangi emisi karbon yang memicu pemanasan global. Pangan sebagai kebutuhan sehari-hari, mestinya diproduksi sedekat mungkin dengan konsumennya sehingga tidak memerlukan energi untuk mengangkutnya dari satu tempat ke tempat lain. Pangan diangkut menggunakan Bahan Bakar  Minyak (BBM), sampahnya pun masih diangkut memakai BBM. Sistem ekonomi yang boros energi.

Ke delapan, lalu bagaimana mengatasi permintaan pangan yang tinggi akibat pertambahan penduduk sementara lahan di Jawa atau Sumatra sudah habis?

Pertanyaan ini sangat mudah dijawab oleh orang Papua:

"Anda yang buka hutan di Sumatra untuk sawit bukannya sawah, hutan di Kalimantan untuk batu bara, Anda yang bongkar sawah di Jawa untuk perumahan, pabrik, bandara, atau tambang semen dan emas, mengapa sekarang mengeluh kekurangan beras dan meminta hutan, rawa, dan dusun sagu kami?"

https://youtu.be/MSVTZSa4oSg

[Status Facebook Dandhy Dwi Laksono

Wednesday, August 24, 2016

SEBUAH CERITA SEDIH

sebuah cerita sedih tentang anak Indoneisa berbakat di bidang astronomi yang masuk ISIS
Astronomi menempati tempat yang luhung dalam sejarah umat manusia, bukan hanya dalam sejarah ilmu pengetahuan dan sains. Astronomi ialah bukti betapa gandrungnya manusia menjelajahi batas-batas -- yang dari kurun ke kurun batas-batas itu terus didesak hingga sejauh-jauhnya.

"The history of astronomy is a history of receding horizons," kata Edwin Hubble, astronom Amrik yang termasyhur itu.

Yang pernah belajar sejarah, termasuk sejarah filsafat bahkan teologi, sedikit banyak tentu paham pentingnya astronomi. Hampir semua peradaban besar, baik di Barat atau Timur, memberi tempat yang serius bagi ilmu satu ini. Bangunan-bangunan purba yang masih bisa kita saksikan di zaman ini seringkali memperlihatkan jejak dan peranan ilmu astronomi di dalamnya. Sangat biasa, jika bukan hampir semua, pemikir-pemikir klasik akrab dengan hitung-hitungan astronomi -- ini juga berlaku di peradaban Barat atau Timur: dari Democritus dan Aristoteles hingga Ibn Sina dan Ommar Khayam.

Masa kecil kita pasti pernah diisi dengan perasaan tak terpermanai saat melihat langit pada malam hari. Langit malam yang terang oleh kerlip bintang dan semburat cahaya bulan selalu menakjubkan bagi anak-anak kecil yang kepalanya masih sangat terbuka kepada berbagai hal luar biasa yang mempesona. Anak-anak yang diberkahi daya imajinasi yang (nyaris) tak terbatas -- karena batas-batas memang tak dikenali dengan baik oleh anak-anak -- seperti menemukan tempat bermain yang begitu luas untuk dijelajahi.

Saya ingat pernah terlambat pulang ke rumah usai mengaji di surau karena melihat lesatan benda langit yang jatuh jauh ke tengah sawah yang letaknya di atas lapangan sepakbola kampung. Nyaris tanpa perhitungan saya memburu ke arah jatuhnya benda itu, bersama beberapa kawan. Kami tak menemukan apa-apa, karena suasana begitu gelap. Namun saya ingat bagaimana kami semua, saya dan beberapa teman, terus menatap ke arah langit dan berharap akan datang lagi lesatan cahaya.

Kami sudah cukup besar, sekitar kelas 4 SD, sehingga lagu "Bintang Kecil" tentu saja terasa kelewat kekanak-kanakan. Namun malam itu, sambil berjalan pulang, kami menyanyikan lagu itu bersama-sama, entah siapa yang memulai, sambil terus menatap langit. Rasanya lagu itu terasa enak sekali dinyanyikan kembali. Mungkin karena keterbatasan referensi musik itulah yang membuat pilihan tidak bisa tidak hanya kepada lagu satu itu. Kami bertiga, atau berempat, tidak lekas-lekas pulang ke rumah masing-masing, tapi duduk-duduk di pinggir lapangan sepakbola sambil -- lagi-lagi -- terus menatap langit. Salah seorang dari kami, mungkin saya, menukil cerita pencarian Tuhan ala Ibrahim yang berkali-kali menduga benda-benda langit sebagai Sang Maha Pencipta.

Ketakjuban pada langit malam tidak pernah benar-benar punah bahkan walau kita semua sudah beranjak dewasa. Ada saat di mana kita, atau saya, sampai pada suasana-tak-tentu, atau situasi selo, pada malam-malam yang mungkin sedih atau bahagia, atau biasa-biasa saja, lalu tertegun menatap langit. Diselipi pretensi astronomik atau tidak, langit pada malam hari masih dapat memberikan efek yang kuat.

Saya tentu masih cukup sering menikmati langit malam hari. Kendati, tentu saja, langit hari ini jelas tak sama dengan langit yang saya lihat bertahun-tahun lalu saat masih bocah. Langit tidak sebersih dulu. Udara semakin pekat oleh polusi, cahaya listrik dengan telengas menyibak kegelapan alami yang dulu sama-sama kita nikmati pada malam-malam setelah mengaji di surau, atau setelah mengerjakan PR di ruang tamu ditemani bapak dan ibu.

Mungkin karena nostalgik itulah saya menulis sebuah cerita anak tentang perkawanan seorang gadis kecil dengan bintang dari langit selatan. Cerita itu sedianya akan dicetak untuk kado ulang tahun anak saya, Daya, yang ke empat. Namun rencana itu urung karena satu dan lain hal, terutama aspek ilustrasi, kendati cerita sudah selesai saya tulis. Hanya tinggal tunggu waktu saja, sih, buku itu untuk diterbitkan.

Saya juga pernah terpesona, beberapa tahun lalu, saat membaca cerita dari majalah TEMPO tentang seorang bocah ndesit dari Trenggalek yang, dengan segala keterbatasan, berhasil menjadi juara Olimpiade Astronomi di Ukraina. Ia bocah kampung, yang bukan hanya tidak memiliki peralatan tapi juga tidak memiliki guru yang bisa sungguh-sungguh dapat menjadi teman diskusi soal benda-benda langit dan alam semesta.

Ia baru belajar astronomi secara serius, termasuk cara menggunakan teleskop, justru saat pelatihan dan persiapan menjelang tahap seleksi tim olimpiade itu. Dalam laporan lain, saya membaca bagaimana bocah itu menghitung letak bulan dengan kepalan tangan. TEMPO menulis:

[...] Pada malam hari, ia terpekur mengamati langit dengan mata telanjang. "Lampu depan rumah dimatikan agar melihatnya bisa jelas," kata Mariati, sang bunda. Ya, ia hanya melihat bintang itu dengan matanya, karena teropong tak ia miliki.[...]

Ilmu astronomi di Indonesia, yang di luar negeri begitu prestisius, seperti punya "bintang" baru yang hendak mengorbit. Sayangnya sangat sedikit yang berminat mempelajari astronomi di perguruan tinggi. Jurusan astronomi merupakan salah satu jurusan yang sedikit peminatnya di ITB. Menurut laporan TEMPO kala itu, hanya 10 mahasiswa saja rata-rata tiap angkatan. Dari 330an kursi di seluruh jurusan Fakultas MIPA ITB, hanya 8-10 saja yang mendaftar di jurusan astronomi.

Bocah itu jelas menjadi harapan. Bocah bernama Zevrizal, yang menjadi juara Olimpiade Astronomi di Ukraina kala masih berusia 14 tahun, ternyata tidak mengambil kuliah di ITB. Ia memilih kuliah di Universitas Airlangga. Lalu ia dikabarkan menghilang, sampai kemudian... ia dikabarkan bergabung dengan ISIS.

[Status Facebook Zen RS]

SEGUWWIINIIIHH

ukuran depa itu sama dengan arms wide open
Syaichona Zainur memang khoriqul 'adah. Di seantero pulau, beliaulah satu-satunya kyai yang tak mau bermatsna-ria, apalagi berta'addud. Beliau malah kerap kali mengkritik praktek poligami yang sembarangan.

"Sunnah Rasul kok dijadikan tameng? Tahu tidak? Selain Siti 'Aisyah, Rasulullah tidak menikahi wanita selain janda!" 

Demikianlah, dan Syaichona menghabiskan seluruh waktu luangnya untuk mengasuh ikan-ikan piranha.

Sampai suatu hari, pagi-pagi sekali sesudah subuh, Bindereh Hodri menjemputnya.

"Mari ikut saya, Kak Toan!"

Ternyata Bindereh mengajaknya bertakziyah ke rumah tetangga yang baru wafat malam harinya. Si tetangga itu masih muda, terhitung pengantin baru dan belum punya anak. Kepada Syaichona, Bindereh menunjukkan foto-foto pasangan muda yang dipajang di rumah duka. Dan dari foto-foto itu, Syaichona dapat melihat dengan gamblang bahwa di dunia fana ini ada yang jauh lebih menarik ketimbang ikan piranha!

"Sama-sama menempuh resiko, kenapa 'dak cari alternatif yang lebih prospektip ketimbang ikan-ikan yang tampangnya jelek banget itu?"

Maka Syaichona pun bangkit minatnya. Dengan sepenuh hati ia bantu keluarga shohibul mushibah mengurus sagala sesuatu terkait jenazah, bahkan ikut memandikannya. Keluarga merasa berterimakasih sekali dan sejak saat itu jadi amat dekat dengan Syaichona. Tak ada satu masalah pun kecuali dimintakan saran dan nasehat dari beliau. Tampaknya keluarga sangat siap menerima Syaichona dengan tangan terbuka.

Tapi, masa 'iddah berlalu, tak terjadi apa-apa. Bahkan sampai berbulan-bulan sesudah itu, Syaichona tak juga mengambil langkah. Bindereh Hodri pun terheran-heran,

"Tunggu apa lagi, Kak Toan?"

Yang ditanya menggeleng.

"Hah? Percuma dong Kak Toan sudah repot-repot membantu ini-itu? Sampai ikut memandikan jenazahnya lagi!"

"Justru itu...", Syaichona mendesah, "Aku angkat tangan. Ketika memandikan dulu itu aku jadi tahu kalau aku ini tak punya maqom menjadi suami pengganti".

"Apakah waktu itu Kak Toan menyaksikan keramatnya jenazah?"

"Bukan soal itu..."

"Habis? Soal apa?" 

Syaichona menampilkan mimik putus asa,

"Ukurannya seguwwiniiihhh..."

Ia memberi isyarat dengan membentangkan kedua tangannya.

[Status Facebokk Yahya Cholil Staquf]

Tuesday, August 23, 2016

CARA MENGUBAH JALAN HIDUP

changing paths
MENGUBAH JALAN HIDUP
[Status Facebook Hasanudin Abdurrakhman
  
Kita sering melihat dan membicarakan orang sukses. Tapi pembicaraan berhenti pada fakta bahwa dia sukses, itu saja. Sering kita melihat sukses itu sebagai keberuntungan dia belaka. "Itu hoki dia," kata kita. Sukses adalah kemurahan Tuhan yang Dia bagikan sesuai kehendak-Nya. Kalau kita tidak sukses, itu karena kita bukan orang yang dipilih Tuhan untuk sukses.

Tidak jarang pula kita membicarakan orang sukses dengan cara yang benar, yaitu kita membahas jalannya. Tapi hanya berhenti sampai pada pembicaraan. "Dia orang yang rajin, giat, punya visi, bla...bla...bla...." Kita tahu bagaimana dia bisa sukses, kita paham rumusnya. Tapi kita hanya menjadikannya pengetahuan saja, tidak menjadikannya tindakan. Seolah hanya dia yang bisa bertindak begitu, sementara kita mustahil melakukannya.

Tidak sedikit orang yang tidak puas dengan hidupnya, ia ingin mengubahnya. Tapi tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Apa yang harus dilakukan?

Seseorang bangun pagi, dia pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Ia ambil sebutir telur, ia panaskan penggorengan dengan minyak goreng, kemudian ia pecahkan telur tadi, ia masukkan isinya ke penggorengan. Lalu ia taburi garam. Ia akan mendapatkan seporsi telor ceplok.

Orang itu bangun pagi pada keesokan harinya. Ia ingin sarapan telur dadar. Ia ambil sebutir telur, ia panaskan penggorengan dengan minyak goreng, kemudian ia pecahkan telur tadi, ia masukkan isinya ke penggorengan. Lalu ia taburi garam. Apakah ia akan mendapatkan telur dadar? Tidak. Ia akan kembali mendapatkan telur ceplok. Kenapa? Karena ia tidak mengubah cara hidupnya. Begitulah. Banyak orang yang ingin mengubah hidupnya, tapi ia tidak pernah mengubah cara hidup. Maka hari-harinya akan berlalu tanpa perubahan. Kata Einstein, insanity is doing the same thing over and over, but expecting different results.

Apa yang harus kita ubah untuk mengubah hidup?

Pertama, CARA PANDANG. Dunia di sekitar kita, kejadian-kejadian yang kita hadapi sering kali tampak sangat berbeda, bila kita lihat dengan sudut pandang yang berbeda. Misalnya, ada orang yang melihat segala sesuatu dengan sudut pandang reaktif. Ia menempatkan dirinya sebagai "produk" dari berbagai situasi di lingkungannya. Bosnya tidak ramah, bawahannya tidak kompeten, rekan kerja tidak mendukung. Ia tidak sukses karena itu semua. Kata Steven Covey,"Kalau kamu melihat semua masalah sumbernya ada di luar dirimu, maka kamu adalah orang yang paling bermasalah."

Maka hal pertama yang harus kita ubah adalah cara kita melihat sesuatu. Ketimbang menjadi reaktif, menganggap diri kita adalah produk dari berbagai situasi di sekitar kita, Covey menyarankan sikap proaktif. Orang proaktif memilih sikap yang dia ambil sebagai respons terhadap situasi yang dia hadapi, berdasarkan nilai yang dia anut. Ia mengendalikan situasi, bukan dikendalikan situasi.

Kedua, MENGUBAH SIKAP DASAR. Sebenarnya sudah merupakan rumus umum bahwa sukses itu berkaitan erat dengan kerja keras, disiplin, komitmen, kejujuran, respect, dan banyak hal lagi. Mengubah hidup tentu saja otomatis berkait erat dengan mengubah sikap-sikap dasar tadi. Mengubah hidup berarti berubah menjadi orang yang tidak disiplin menjadi disiplin, dari jorok menjadi bersih, dan seterusnya.

Masalah bagi banyak orang adalah bahwa berubah itu membuat tidak nyaman. Situasi sekarang ini berlanjut karena orang biasanya menciptakan apa yang disebut dengan zona nyaman. Keluar dari zona nyaman itu tidak enak. Karena itu ketika ada keinginan untuk berubah, keinginan itu dilawan oleh keinginan lain untuk tetap berada di dalam zona nyaman.

Perubahan memerlukan kemauan keras untuk keluar dari zona nyaman tadi.

Ketiga, MENGAMBIL RESIKO. Zona nyaman adalah dunia yang sudah sangat kita kenal, karena kita yang membangunnya. Ibarat kamar pribadi kita, di situ kita tahu di mana letak sakelar lampu, remote control AC, posisi kulkas, atau kamar kecil. Sementara itu, di luar sana, dunia yang serba tidak kita kenal. Kita bayangkan diri kita akan terbentur tembok, terperosok lubang, atau tertusuk duri. Tidak ada jaminan bahwa kita akan berhasil.

Berubah artinya mengambil resiko, menghadapi semua kemungkinan itu. Kemungkinannya ada 2, berhasil atau gagal. Tapi sebenarnya peluang untuk berhasil lebih besar. Kenapa? Karena kita memilihnya. Tidak ada orang yang memilih untuk gagal. Artinya, setiap tindakan yang kita ambil adalah tindakan yang menggiring kita untuk berhasil. Kalau di suatu titik kita salah bertindak sehingga menyebabkan kita mengarah pada kegagalan, kita bisa selalu mengoreksinya. Jadi, sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan.

Keempat, BERTINDAKLAH SEKARANG. Bukan nanti. Bukan besok. Bukan sebentar lagi. Menunda adalah sebuah cara untuk menghindar, untuk tetap bertahan di zona nyaman. Sebentar lagi, satu jam lagi, sehari lagi, seminggu lagi, sebulan lagi, setahun lagi. Menunda sering menghasilkan penundaan berikutnya. Itulah salah satu sebab kenapa banyak orang tidak pernah berubah.

Mau berubah? Berubahlah sekarang!